Pada tanggal 1 Mei 1963 UNTEA ( United Nations Temporary Executive Autorery ) secara resmi menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah RI. Berdasarkan Keputusan Men / Pangad Nomor : Kepts – 35 / I / 1963 tanggal 12 Januari 1963 yang diperbaharui dengan Keputusan Nomor : Kpts – 210 / 3 / 1963 tanggal 4 Maret 1963. Selanjutnya KOTINDO menyerahkan tanggung jawab pengamanan Irian Barat kepada Kodam XVII / Irian Barat pada tanggal 17 Mei 1963 sehingga kekuatan dan wewenang militer sepenuhnya menjadi tugas dan tanggung jawab Kodam XVII / Irian Barat.
Untuk memudahkan pembinaan wilayah, Irian Barat dibagi menjadi 3 wilayah Korem yaitu Korem 171 berkedudukan di Manokwari, Korem 172 berkedudukan di Sorong dan Korem 173 berkedudukan di Merauke. Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XVII/Irian Barat Nomor : Sprin / 273 / 3 / VI / 1964 tanggal 30 Juni 1964,nama Kodam XVII/Irian Barat dirubah menjadi Kodam XVII/Cenderawasih dengan 3 wilayah Korem yaitu Korem 171 di Manokwari dan Korem 172 di Merauke sedangkan Korem 173 di Sorong berdasarkan Surat Perintah Pangdam XVII/Cenderawasih Nomor : Sprin / Ops / 1 / 2 / 1964 tanggal 5 Agustus 1964 berubah menjadi Korem 172 dan membawahi 2 Kodim yaitu Kodim 1721 / Merauke dan Kodim 1722 / Tanah Merah.
Berdasarkan Keputusan Pangkoda If Nomor : Keputusan 0059 / 8 / 1967 tanggal 29 Agustus 1967 dan Surat Keputusan Pangdam XVII / Cenderawasih Nomor : Skep / 064 / I / 1968 tanggal 19 Januari 1968 tentang perubahan Nomor Kodim yaitu Kodim 1721 Merauke menjadi Kodim 1707 Merauke dan Kodim 1722 Tanah Merah menjadi Kodim 1708 Tanah Merah, namun kemudian berdasarkan ketetapan Menpangab Nomor :10-55 tahun 1969, Kodim 1708 Tanah Merah dilikuidasi dan Kodim 1702 Jayawijaya dimasukan ke jajaran Korem 172.
Wilayah Kodam XVII/Cenderawasih ditetapkan kembali menjadi 3 Korem melalui Keputusan Kasad Nomor : Skep / 265 / V / 1970 yaitu Korem 171 berkedudukan di Manokwari, Korem 172 berkedudukan di Merauke dan Korem 173 berkedudukan di Biak.
Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Kasad Nomor : Skep / 564 / X / 1971 tanggal 8 Oktober 1971 Makorem 172 pindah dari Merauke ke Abepura Jayapura dan Kodim 1701 Jayapura masuk ke Jajaran Korem 172, selanjutnya Korem 172 / Praja Wira Yakthi diberi Dhuaja seloka Praja Wira Yakthi yang berarti prajurit yang senantiasa mengutamakan sifat dan watak Perwira Kesatria dengan dedikasi yang tinggi dalam melakukan pengabdian membela wilayah tanggung jawabnya.
Berdasarkan Skep Pangdam XVII / Cenderawasih Nomor : Skep : 061 / XI / 1976 tanggal 3 Nopember 1976 ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun Korem 172 / Praja Wira Yakthi jatuh pada tanggal 7 NOPEMBER.
Pada tanggal 26 Desember 1984, berdasarkan Surat Keputusan Pangdam XVII/ /Cend organisasi Makorem 172 / Praja Wira Yakthi mengalami perubahan yaitu penambahan Seksi Sospol pada tingkat Staf, Setumrem, Kimarem, Kihubrem dan Infolahtarem pada eselon pelayan serta Jasrem, Bintalrem dan Penrem, Ton Intel dan Yonif 751/Vira Jaya Sakti pada Eselon Pelaksana.
Berdasarkan Surat Perintah Kepala Staf TNI-AD Nomor : Sprin / 52 / I / 1999 tanggal 13 Januari 1999 dan Surat Telegram Pangdam XVII / Trikora Nomor : ST / 65 / 1999 tanggal 3 Pebruari 1999 Staf Sospol Makorem 172 / Praja Wira Yakthi dilikuidasi menjadi Staf Komsos yang berada dibawah Staf Teritorial Korem 172/ Praja Wira Yakthi.
Berdasarkan Keputusan Kasad Nomor : Skep / 2 / IV / 2000 tanggal 3 April 2000 Yonif 751 / VJS dilikuidasi dari organik Korem 172/ Praja Wira Yakthi menjadi pasukan mobil Kodam XVII / Trikora (PMK) terhitung mulai tanggal 1 April 2000.
Berdasarkan Keputusan Kasad Nomor : Skep / 209 / VIII / 2005 tanggal 22 Agustus 2005 pengalihan Komando dan Pengendalian Kodim 1707/Merauke dari Korem 172/Praja Wira Yakthi kepada Korem 174/Anim Ti Waninggap.
Korem 172/Praja Wira Yakthi berlambang satuan dengan sebutan “Dhuaja Praja Wira Yakthi” yang mempunyai arti dan makna sebagai berikut.
MAKNA LAMBANG
a. Bintang bersudut lima. Bintang melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa, berarti Prajurit yang senantiasa Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam perwujudannya selalu patuh dan taat melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan dan agama masing-masing serta mengamalkan toleransi antar umat beragama, sebagai Lambang TNI – AD, maka Prajurit TNI – AD harus senantiasa setia dan menjunjung tinggi kehormatan satuan TNI-AD dan Bintang berwarna kuning emas, mengandung arti bahwa sebagai Prajurit TNI- AD senantiasa bercita- cita luhur dan tinggi dengan perwujudannya selalu belajar dan melatih diri agar tetap siap untuk mampu mendharma bhaktikan dirinya demi kejayaan Nusa dan Bangsa.
b. Bunga Kapas delapan buah. Kapas yang putih bersih melambangkan kebersihan dan kesucian niat dan tekad kami untuk mengabdikan diri kepada masyarakat tempat kami bertugas, bertekad untuk mengantarkan rakyat ketingkat kesejahteraan yang lebih baik dan Kapas delapan buah melambangkan bulan kedelapan atau bulan Agustus, sedangkan 17 helai daun melambangkan tanggal 17.
c. Buah padi empat puluh lima butir. Buah padi merupakan Lambang kemakmuran, Prajurit Korem 172/PWY bersama-sama dengan masyarakatnya akan bekerja keras mencapai kemakmuran, empat puluh lima butir padi melambangkan dua angkatan terakhir dari angka 1945 dan buah kapas dan buah padi melambangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang ada di daerah Korem 172/PWY, setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945.
d. Gunung dengan dua puncak dan aliran salju abadi. mempunyai arti bahwa Gunung melambangkan watak ksatria yang tegas, tidak goyah oleh pengaruh yang kurang baik, berpendirian teguh, percaya kepada diri sendiri, berdisiplin kuat, dua Puncak gunung yang melambangkan TNI dan Rakyat bersatu bekerja sama bahu-membahu, warna hitam melambangkan watak setia seorang ksatria, dua puncak gunung yang berwarna putih perak adalah gambaran benda alam salju abadi yang khas didaerah Korem / PWY yaitu gambaran Gunung Jayawijaya dan aliran salju berjumlah tujuh berarti tanggal tujuh tanggal hari jadi Korem 172/PWY.
e. Semak, hutan, rimba berwarna hijau dengan sebelas puncak. merupakan gambaran kondisi daerah tanggung jawab Korem 172/PWY yang sebagian besar terdiri dari benda alam tersebut. Kondisi daerah yang seperti itu, bukan hal yang menakutkan tetapi menunjukkan adanya potensi yang sangat besar untuk kesejahteraan dan kemakmuran yang menantang kita semua untuk ditangani dengan sungguh-sungguh, sebelas puncak melambangkan bulan Nopember dan tujuh aliran salju dengan sebelas puncak hutan berarti tanggal tujuh Nopember, adalah hari jadi Korem 172/PWY.
f. Tugu bertuliskan angka 1410 merupakan gambaran tugu batas Negara Kesatuan Republik Indonesia dan angka 1410 adalah angka garis batas Negara yang secara umum terletak pada garis batas Negara yang secara umum terletak pada garis batas daerah tanggung jawab Korem 172/PWY.
g. Garis cakrawala dan rawa-rawa. Garis cakrawala melambangkan bahwa sebagai aparat teritorial sangat dituntut untuk memiliki cakrawala / pandang luas dan jauh kedepan dengan pengetahuan yang memadai untuk mampu menyelesaikan tugasnya yang memang luas, rumit, penuh aneka ragam, rawa-rawa yang memang nampaknya medan penghambat besar,tetapi merupakan tantangan yang harus bermanfaat untuk mencapai kesejahteraan maupun kepentingan pertahanan keamanan dan gunung ,semak, hutan, rimba, rawa dan lautan adalah gambaran yang menyeluruh tentang kondisi geografi dan topografi daerah Korem 172/PWY.
h. Lautan dengan tujuh puncak gelombang. Lautan samudera membatasi Korem 172 / PWY disebelah utara dan di sebelah selatan dan gelombang melambangkan sifat Prajurit Korem 172/PWY yang dinamis penuh energi, tidak pernah diam berpangku tangan, penuh inisiatif untuk menyelesaikan tugasnya.
i. Kain pengikat melengkung ke atas. Tetap mengikat erat kemanunggalan dengan rakyat, merupakan gambaran garis bibir yang tersenyum, melambangkan senyum teritorial sebagai perwujudan “sikap teritorial” dan ujung – ujungnya menengadah terbuka keatas, mempunyai makna keterbukaan didalam melaksanakan tugas-tugas teritorial.
Makna Warna.
a. Kuning emas : Kejayaan dan keluhuran.
b. Putih/putih perak : Suci.
c. Merah : Berani.
d. Hitam : Setia dan wibawa.
e. Hijau : Kesejahteraan dan kemakmuran.
f. Biru : Kedamaian dan ketenangan.
Makna seloka “ Praja Wira Yakthi ”
a. Praja : Wilayah/ daerah/tanah dan isinya termasuk rakyat yang berdiam diatas wilayah/daerah tersebut.
b. Wira : Mengutamakan dan menonjolkan sifat / watak sebagai perwira ksatria.
c. Yakthi : Sungguh-sungguh, tekun, bhakti.
Yang berarti bahwa Prajurit Korem 172/Praja Wira Yakthi membiasakan kejujuran, keadilan dan kebenaran serta senantiasa menjadi tauladan bagi masyarakat dan keluarganya. Selalu mengutamakan sifat dan watak perwira ksatria dalam berbhakti dengan dedikasi tinggi dalam membela wilayah / daerah yang menjadi tanggung jawab termasuk isinya dan rakyatnya yang berdiam diatasnya.
Kepala Standard (Mahkota)
a. Bintang bersudut lima adalah bintang keprajuritan, juga melambangkan kesetiaan terhadap Pancasila.
b. Tujuh buah kelopak adalah Sapta Marga, yang terikat dalam satu ikatan yang kekal sebagai lambang persatuan dan kesatuan.
c. Lima kelopak kecil sebagai lambang Sumpah Prajurit.
d. Secara keseluruhan mahkota / kepala tiang bermakna bahwa Prajurit sebagai Tiang Negara yang berlandaskan Pancasila , Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Mempertahankan persatuan dan kesatuan antara sesama anggota dan kemanunggalan TNI dan rakyat yang tak mungkin di pisah-pisahkan dan tetap akan kekal.
Arti keseluruhan Lambang. Prajurit yang bernaung dibawah Lambang / Dhuaja ini adalah warga dan keluarga TNI Angkatan Darat yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa dan setia kepada Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Ksatria yang setia serta menjunjung tinggi kehormatan Corps TNI Angkatan Darat dalam gejolaknya situasi tetap patuh dan taat untuk berpedoman kepada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit sebagai pedoman Prajurit TNI. Berbudi luhur, berkemauan keras, dinamis penuh inisiatif kreatif yang positif agar mampu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan Negara Indonesia bersedia berkorban tanpa pamrih untuk mempertahankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang terletak diwilayah paling timur dengan masyarakat di daerah tanggung jawabnya, bekerja keras meraih tingkat kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik demi kejayaan Nusa dan Bangsa.
